Latest Post
Home » Posts filed under Klaten
Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts
15:30
Dalam Sehari, 2 Mobil di Klaten Dibobol Maling
Written By Unknown on Saturday, March 16, 2013 | 15:30
KLATEN — Dua kasus pencurian dengan modus memecah kaca mobil terjadi di dua lokasi berbeda di Klaten dalam sehari, Kamis (14/3/2013).
Informasi yang dihimpun, Jumat (15/3/2013), kejadian pertama menimpa Widi Astuti, 39, seorang notaris di halaman rumahnya, Dusun Jetis, Desa Gatak, Kecamatan Ngawen. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, tepatnya setelah korban pulang dari senam di kawasan Gergunung, Klaten Utara mengendarai mobil Kia Picanto warna merah dengan nomor polisi AD 8775 UC.
Sesampainya di rumah, korban masuk ke dalam sementara mobilnya diparkir di halaman. Sesaat kemudian, dia baru menyadari jika tas miliknya masih berada di dalam mobil. Ketika ingin mengambilnya, dia dikagetkan dengan kondisi kaca mobil bagian belakang sebelah kanan pecah.
“Dalam tas itu ada uang Rp6 juta dan dokumen-dokumen penting lainnya,” ujar korban saat melapor ke Mapolsek Ketandan, Kamis malam.
Pencurian dengan modus memecah kaca mobil yang kedua menimpa Iwan Kus Hariyanto, 33, warga Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo di depan Warung Bakso Organik di Jl Solo-Jogja, Ketandan, Klaten Utara, sekitar pukul 16.15 WIB. Saat ditinggal makan bakso, tiba-tiba korban dikejutkan dengan suara kaca pecah. Setelah keluar dari warung, dia mendapati kaca mobil Terrios bernopol B 1487 BFJ miliknya pecah pada bagian kanan tengah. Berdasarkan keterangan dari saksi, pelaku berjumlah dua orang yang mengendarai sepeda motor Jupiter MX warna biru.
“Kejadian begitu cepat. Satu pelaku menggunakan helm, satu lagi tidak. Sejumlah anggota yang patroli sempat mengejar pelaku yang berlari ke arah kota. Namun jejaknya tak diketahui setelah dua pelaku itu belok kiri ketika sampai simpang empat PN [Pengadilan Negeri] Klaten. Keduanya menghilang begitu sampai di kawasan Kampus Uniwidha,” terang Kapolsek Ketandan, Iptu Jovian Wijaya, saat ditemui wartawan di Mapolres Klaten, Jumat.
Kedua pelaku berhasil membawa kabur satu unit laptop merk Asus, sebuah flashdisk, satu bendel dokumen proyek, dengan kerugian ditaksir Rp8 juta.
Kapolres Klaten, AKBP Y Ragil Heru Susetyo, mengatakan hingga kini pihaknya masih menyelidiki dua kasus pencurian dengan modus memecah kaca mobil itu. Dia belum memastikan apakah dua kasus itu dilakukan oleh pelaku yang sama.
Sumber: solopos
Informasi yang dihimpun, Jumat (15/3/2013), kejadian pertama menimpa Widi Astuti, 39, seorang notaris di halaman rumahnya, Dusun Jetis, Desa Gatak, Kecamatan Ngawen. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, tepatnya setelah korban pulang dari senam di kawasan Gergunung, Klaten Utara mengendarai mobil Kia Picanto warna merah dengan nomor polisi AD 8775 UC.
Sesampainya di rumah, korban masuk ke dalam sementara mobilnya diparkir di halaman. Sesaat kemudian, dia baru menyadari jika tas miliknya masih berada di dalam mobil. Ketika ingin mengambilnya, dia dikagetkan dengan kondisi kaca mobil bagian belakang sebelah kanan pecah.
“Dalam tas itu ada uang Rp6 juta dan dokumen-dokumen penting lainnya,” ujar korban saat melapor ke Mapolsek Ketandan, Kamis malam.
Pencurian dengan modus memecah kaca mobil yang kedua menimpa Iwan Kus Hariyanto, 33, warga Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo di depan Warung Bakso Organik di Jl Solo-Jogja, Ketandan, Klaten Utara, sekitar pukul 16.15 WIB. Saat ditinggal makan bakso, tiba-tiba korban dikejutkan dengan suara kaca pecah. Setelah keluar dari warung, dia mendapati kaca mobil Terrios bernopol B 1487 BFJ miliknya pecah pada bagian kanan tengah. Berdasarkan keterangan dari saksi, pelaku berjumlah dua orang yang mengendarai sepeda motor Jupiter MX warna biru.
“Kejadian begitu cepat. Satu pelaku menggunakan helm, satu lagi tidak. Sejumlah anggota yang patroli sempat mengejar pelaku yang berlari ke arah kota. Namun jejaknya tak diketahui setelah dua pelaku itu belok kiri ketika sampai simpang empat PN [Pengadilan Negeri] Klaten. Keduanya menghilang begitu sampai di kawasan Kampus Uniwidha,” terang Kapolsek Ketandan, Iptu Jovian Wijaya, saat ditemui wartawan di Mapolres Klaten, Jumat.
Kedua pelaku berhasil membawa kabur satu unit laptop merk Asus, sebuah flashdisk, satu bendel dokumen proyek, dengan kerugian ditaksir Rp8 juta.
Kapolres Klaten, AKBP Y Ragil Heru Susetyo, mengatakan hingga kini pihaknya masih menyelidiki dua kasus pencurian dengan modus memecah kaca mobil itu. Dia belum memastikan apakah dua kasus itu dilakukan oleh pelaku yang sama.
Sumber: solopos
10:27
Sejarah Kabupaten Klaten
Written By Ardy on Friday, March 15, 2013 | 10:27
Kabupaten Klaten adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan berada di Kota Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di utara, Kabupaten Sukoharjo di timur, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat. Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah dan tanah
bergelombang. Bagian barat laut merupakan pegunungan, bagian dari sistem
Gunung Merapi. Ibukota kabupaten ini berada di jalur utama Solo-Yogyakarta. Oleh karena itu Klaten ini selalu ramai. Motto dari Kabupaten Klaten adalah "Klaten Bersinar". Berikut sejarah singkat tentang Kabupaten Klaten.
Sejarah singkat Kabupaten Klaten
Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.
Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati.
Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata
Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata
Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana
dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.
Melati adalah nama seorang kyai
yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang
masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari
Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang
yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang
sekarang.
Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas
diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati
Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga
sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu
pula Kyai Melati dimakamkan.
Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti.
Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok.
Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat
tinggalnya.
Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat.
Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten
berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari
jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya
pemerintahan daerah otonom tahun 1950.
Keadaan Geografis
Secara geografis Kabupaten Klaten terletak di antara 110°30'-110°45' Bujur Timur dan 7°30'-7°45' Lintang Selatan.
Luas wilayah kabupaten Klaten mencapai 665,56 km2. Di sebelah timur
berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo. Di sebelah selatan berbatasan
dengan kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sebelah
barat berbatasan dengan kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta)
dan di sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Boyolali.
Menurut topografi
kabupaten Klaten terletak di antara gunung Merapi dan pegunungan Seribu
dengan ketinggian antara 75-160 meter diatas permukaan laut yang
terbagi menjadi wilayah lereng Gunung Merapi di bagian utara areal
miring, wilayah datar dan wilayah berbukit di bagian selatan. Ditinjau dari ketinggiannya, wilayah Kabupaten Klaten terdiri dari
dataran dan pegunungan, dan berada dalam ketinggian yang bervariasi,
yaitu 9,72% terletak di ketinggian 0-100 meter dari permukaan air laut.
77,52% terletak di ketinggian 100-500 meter dari permukaan air laut dan
12,76% terletak di ketinggian 500-1000 meter dari permukaan air laut.
Keadaan iklim Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan musim
hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur udara
rata-rata 28°-30° Celsius dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153
mm setiap bulannya dengan curah hujan tertinggi bulan Januari (350mm)
dan curah hujan terrendah bulan Juli (8mm).
Pemerintahan
Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas 53 desa dan 103 kelurahan. Kabupaten Klaten dipimpin oleh seorang Bupati. Bupati Klaten saat ini adalah Sunarno, SE, MHum. Ibukota kabupaten ini berada di Kota Klaten, yang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Kota Klaten dulunya merupakan Kota Administratif,
namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota
Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten
Klaten. Berikut adalah daftar Kecamatan di Klaten :
- Bayat
- Cawas
- Ceper
- Delanggu
- Gantiwarno
- Jatinom
- Jogonalan
- Juwiring
- Kalikotes
- Karanganom
- Karangdowo
- Karangnongko
- Kebonarum
- Kemalang
- Klaten Utara
- Klaten Tengah
- Klaten Selatan
- Manisrenggo
- Ngawen
- Pedan
- Polanharjo
- Prambanan
- Trucuk
- Tulung
- Wedi
- Wonosari
Demikian lah sejarah singkat untuk Kabupaten Klaten. Selain daerah yang strategis, yaitu berada dijalur utama Solo-Yogya Kota Klaten ini juga mempunyai kebudayaan dan pariwisata yang melimpah. Salah satu tempat Wisata yang terkenal yaitu Candi Prambanan dan Candi Sewu.
Sumber : Wikipedia
Labels:
Klaten
08:12
Hama tikus serang Klaten Jawa Tengah
KLATEN - Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Bibit Waluyo, menyebut
serangan hama tikus di Kabupaten Klaten merupakan yang terparah di
Jateng.
Hal itu dikemukakan Bibit Waluyo di
sela-sela acara penyerahan bantuan rehab rumah tidak layak huni (RTLH)
Desa Banyuaeng, Kecamatan Karangnongko, Rabu (13/3/2013) kemarin. Bibit menilai
parahnya serangan hama tikus di Klaten diakibatkan kurangnya kebersamaan
antarpetani dalam melaksanakan pola tanam.
“Dari
35 kabupaten dan kota di Jateng, hanya Klaten yang ada serangan hama
wereng sedemikian parah. Serangan tidak hanya terjadi di Kecamatan
Delanggu, di Juwiring, bahkan di Polanharjo, hama tikus sudah mengganas.
Ini harusnya menjadi bahan introspeksi kita bersama,” ujar orang nomor
satu di Klaten itu.
Bibit menjelaskan, selama ini
upaya membasmi hama tikus sebenarnya sudah dilakukan. Sejumlah desa
sudah menggelar geropyokan tikus berkali-kali. Akan tetapi, hasil yang
diharapnya ternyata tidak memuaskan kalangan petani. Alih-alih bisa
musnah, tikus-tikus itu malah bermigrasi ke kawasan lain sehingga
memperluas daerah serangan.
“Saya ingin mengajak
kepada saudara saya di Klaten. Marilah kita pahami bersama. Pola tanam
yang serentak itu cukup bagus untuk memotong rantai siklus hama tikus
dan wereng. Jenis tanaman harus seragam. Kalau padi ya padi semua.
Jangan sampai dalam satu kawasan itu ditanami padi, jagung, ketela,
kacang, tembakau dan lain-lain. Yo ngunu kui sing gawe tikus seneng,” papar Bibit.
Bibit
mengaku sebenarnya sudah menyediakan varietas bibit padi unggul yang
cocok di tanam di daerah Jateng. Beberapa varietas itu meliputi inpari, mekongga, situbagendit, IR 64 dan ciherang.
Namun, pola tanam yang keliru dinilainya menjadi penyebab kegagalan
panen akibat serangan hama tikus. “Kami siap membantu bibit unggul yang
terbukti berkualitas. Namun kami berharap pola tanamnya diubah. Percuma
kalau ditanami variestas unggul, namun pola tanamnya keliru,” tambahnya.
Dalam catatan Espos,
hama tikus di Klaten telah menyerang 657 hektare tanaman padi di
Klaten. Sebanyak 99 hektare di antaranya dinyatakan puso akibat ganasnya
serangan hama tikus.
Koordinator Pengendali
Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Klaten, Sunarno,
mengatakan serangan tikus ini cenderung merata di seluruh wilayah
Kabupaten Klaten. Dari 26 kecamatan, tikus menyerang tanaman padi milik
petani di 17 kecamatan. Serangan paling luas terjadi di Kecamatan
Polanharjo yakni 44 hektare, Karangom 22 hektare, Juwiring 16 hektare
dan Delanggu 14 hektare. “Selama ini serangan hama tikus paling banyak
di eks Kawedanan Delanggu atau Klaten bagian timur,” papar Sunarno.
Serangan hama tikus sebenarnya karena pengaruh iklim dan cuaca. Pengendalian hama tikus ini sudah banyak dilakukan dibeberapa daerah. Tapi karena jumlah hama yang terus meningkat menyebabkan petani kuwalahan, sehingga banyak menyebabkan gagal panen. Dan petanipun banyak yang merugi. Semoga pemerintah lekas bertindak, terutama dari Dinas Pertanian.
Sumber : Solopos








